Feeds:
Tulisan
Komentar

Dari Maimun bin Mihran, diriwayatkan bahwa ia berkata, “Ada seorang lelaki yang datang menemui Salman Al Farisi, lalu bertanya kepadanya,
“Berikanlah aku nasihat”.
Beliau berkata, “Jangan banyak bicara.”
“Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara.”
“Kalaupun Anda hendak bicara, berbicaralah yang benar, atau diam.”
“Tolong tambahkan yang lain.”
“Jangan suka marah.”
“Kadang terjadi padaku, apa yang aku tidak bisa menahan diri.”
“Kalau begitu, bila engkau marah, jagalah lidah dan tanganmu.”
“Tambahkan lagi.”
“Jangan campuri urusan orang lain.”
“Orang yang hidup bersama orang banyak, tak mungkin tidak mencampuri urusan orang lain.”
“Kalau engkau harus mencampuri urusan orang lain, katakan perkataan yang benar, dan tunaikan amanah kepada yang berhak.”

Dari Mu’adz bin Said, diriwayatkan bahwa ia berkata, “Kami pernah bersama Atha’ bin Rabbah. Tiba-tiba seorang lelaki berbicara dan pembicaraannya dipotong oleh temannya. Maka Atha’ berkata, “Subhanallah, akhlak macam apa ini? Sesungguhnya aku mendengar orang lain berbicara, sedangkan aku lebih mengerti daripada dirinya, tetapi aku seolah-olah menunjukkan bahwa aku belum mengerti apa yang disampaikannya.”

Adz Dzahabi berkata,
“Terkadang kita melihat seseorang nampak wara’ dalam menjaga makanan, pakaian dan pergaulannya, namun apabila berbicara, ada hal yang seharusnya tidak disertakan dalam ucapannya namun ia sertakan juga.
Adakalanya ia berusaha untuk tetap jujur, namun kejujurannya tidak sempurna.
Terkadang ia betul-betul jujur, namun ia memperbagus ucapannya agar dipuji sebagai orang yang fasih.
Atau terkadang mempertontonkan apa yang terbagus yang bisa dipertontonkan agar diagung-agungkan orang.
Demikian juga terkadang ia sengaja diam di saat ia bisa berbicara juga untuk mendapatkan sanjungan.”

Lantunan merdu terdengar dari sebuah kepingan CD yang berisi rekaman dakwah dari acara Dauroh Kitab Tauhid. Ulasan cerdas tentang Tauhidullah, mulai dari hakekat dan kedudukan tauhid, keistimewaannya hingga peringatan terhadap bahaya kesyirikan yang menjadi kebalikkan dari tauhid. Sebuah pembahasan yang diambil dari kitab seorang ulama, seorang mujaddid abad ke 12 Hijriyah, Syaikh Muhammad At Tamimi.

Walau baru sebagian kecil dari CD ini yang telah didengarkan, dari yang sedikit itu sudah mulai tertangkap keutamaan isinya. Sebuah pembahasan tentang perkara agama yang menjadi puncak atau inti dakwah para Rosul dari Nabi Nuh ‘alaihissallam hingga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Yang dengan tauhidlah manusia bisa selamat dari kerasnya siksa jahannam.

Di sisi lain ada satu hal yang menggelitik. Dalam ceramah itu disebut-sebut sebuah kitab yang merupakan syarah atau penjelasan dari Kitab Tauhid, yaitu Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid. Konon, kitab ini adalah hasil pelajaran rutin yang disampaikan seorang ulama kontemporer, Syaikh Muhammad Sholeh bin Utsaimin, ketika membahas Kitab Tauhid yang kemudian dibukukan. Kitab ini terdiri dari tiga jilid, sedangkan jilid 1-nya (terjemahan) tebal bukunya sekitar 300 halaman.

Disebutkannya kitab Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid terasa menggelitik, ketika sebelumnya sempat membaca beberapa lembar dari kitab ulama yang lain lagi, Ibnul Jauzi dengan kitab beliau Sukses Meraih Surga. Judul aslinya Bustan al Wa’idzin wa Riyadh al Sami’in. Kitab ini berisi antara lain keadaan manusia ketika berada di padang mahsyar. Tatkala dihadapkan kepada tiap manusia catatan amal perbuatannya, yang dhohir dan yang batin, perkataan maupun perbuatan, semasa hidupnya di dunia.

Sedikit mencermati, dari ceramah yang dibukukan menjadi kitab Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid saja bisa setebal itu, padahal hanya diambil dari perbuatan lisan. Jika lamanya pembahasan kitab tauhid, misal kira-kira 200 jam. Sedang masa hidup manusia, misal 45 tahun, maka kita melewati 45 (thn) x 12 (bln) x 30 (hr) x 24 (jam) alias  388.800 jam atau 1.944 kali lipat dari 200 jam.
Dengan kata lain jika dibukukan (dalam hitungan di dunia ini) akan menjadi 1.944 kali lipat dari 3 jilid buku yang tiap jilidnya setebal + 300 halaman.
Dan ini baru diambil dari perbuatan lisan, belum tentang amal anggota badan yang lain, juga tentang apa yang ada di hati, dan masih banyak lagi.

Terbayang, bagaimana dengan catatan amal perbuatan kita selama hidup?
Bagaimana pula jika catatan amal kita tersebut penuh dengan lembaran hitam keburukan?
Bagaimana pula jika catatan amal kita yang tampak baik, ternyata dicampakkan karena tidak adanya keikhlasan dalam beramal?
Bagaimana pula jika catatan amal itu kita terima dengan tangan kiri kita?

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya,”
dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.

(QS Al Kahfi: 49)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka.
Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka.
Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim.
Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.
Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya.
Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat.
Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya.
Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak.

Sehingga tidaklah sesuai Kebijaksanaan Allah pada masa ini, jika penguasa-penguasa seperti Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah, berkuasa atas kita, dan terlebih lagi yang seperti Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma.
Namun, para penguasa kita adalah sesuai dengan kedudukan dan martabat kita sendiri, dan mereka yang berkuasa atas mereka sebelum kita (juga) sesuai dengan kedudukan dan martabat mereka.
Masing-masing dari kedua hal tersebut (status para penguasa dahulu dan masa kini) merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.”

(Lihat Miftah Daaris Sa’adah)

~* Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
“Syaithan selalu menginginkan dari manusia agar mereka berlebih-lebihan dalam semua perkara.
Jika syaithan melihat orang tersebut condong kepada kasih sayang maka dia jadikan berlebih-lebihan dalam menyayangi, hingga tidak membenci apa yang dibenci Allah dan tidak cemburu.
Tapi jika syaithan melihat orang itu condong kepada sikap kasar/keras, maka syaithan pun menjadikannya berlebih-lebihan hingga tidak berbuat ihsan/baik, lemah lembut dan kasih sayang sesuai dengan yang Allah perintahkan dan dia amat ekstrim dalam membenci dan mencela serta memberi sangsi…”

~* Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
“Barangsiapa diantara kaum muslimin dalam keadaan lemah di suatu tempat atau waktu, maka hendaknya dia mengamalkan ayat kesabaran dan memaafkan orang-orang yang menyakiti Allah Ta’ala dan RasulNya dari kalangan ahli kitab maupun orang-orang musyrikin”.

~* Syaikh Abdurrohman As-Sa’di rahimahullah berkata :
“Hendaknya mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak membebani manusia melainkan sesuai kemampuan mereka dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tuladan mereka. Dahulu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui dua keadaan dalam berdakwah dan berjihad. Beliau diperintah sesuai dengan keadaannya.
Disaat kaum muslimin dalam keadaan lemah dan dikuasai musuh, beliau diperintah untuk membela diri saja dan mencukupkan diri dengan berdakwah serta menahan diri dari jihad mengangkat senjata, karena hal tersebut lebih banyak madhorotnya.
Dan disaat yang lain mereka diperintahkan untuk menolak kejahatan para musuh dengan segala kekuatan yang ada dan berdamai selama terdapat maslahat dalam perdamaian tersebut, serta memerangi orang orang-orang yang melampui batas jika maslahatnya lebih besar.
Wajib bagi kaum muslimin untuk meneladani Nabi mereka dalam hal ini. Dan meneladani beliau adalah kemaslahatan dan kesuksesan”

>*< Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa,
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala”
“Ya Tuhanku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim: 35-36)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku”
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat) (QS. Ibrahim: 40-41)

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah)” (QS. An Nahl: 120)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”
(QS. Qaf: 37)

Al Qur’an diturunkan agar manusia berpegang kepadanya dan menjadikannya pedoman hidup. Pada kenyataannya, banyak di kalangan manusia menolak, sedangkan yang menerima Al Qur’an sering kali kesulitan untuk tunduk dan mengambil pelajaran serta merasa jauh dari nilai-nilai Al Qur’an.

Untuk dapat mengambil manfaat Al Qura’an adalah dengan menghimpun hati saat Al Qur’an dibaca dan saat mendengarnya. Buka selebar-lebarnya telinga dan buatlah seakan-akan kita yang sedang diajak bicara langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan karena memang Al Qur’an merupakan seruan dari Allah Ta’ala yang ditujukan bagi manusia, melalui Rasul-Nya.

Surat Qaf ayat 37 ini menjelaskan tentang bagaimana efektifitas suatu pengaruh, yaitu tergantung pada faktor yang memberi pengaruh, keadaan objek yang dipengaruhi, terpenuhinya persyaratan terjadinya pengaruh dan tersingkirkannya kendala atau penghalangnya.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:
“Pada yang demikian itu” : merupakan isyarat tentang apa yang tertera sejak permulaan surat hingga ke penggal ini, yang di sebut dengan faktor yang mempengaruhi.
“Bagi yang mempunyai hati” : merupakan objek penerima yaitu hati yang hidup dan mau memikirkan tentang Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya, “Al Qur’an tiada lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya di (Muhammad) nenberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya).” (QS. Yasin: 69-70)
“Menggunakan pendengaran” : mengarahkan pendengaran, menyimak dengan ketajaman pendengaran kepada yang didengar, konsentrasi.
“Sedang dia menyaksikan” : hatinya menyaksikan dan tidak melayang entah kemana, tidak lalai.

Ibnu Qutaibah berkata, “Dia mendengarkan Kitab Allah, hatinya ikut hadir beserta pemahamannya, tidak lupa dan tidak lalai. Hal ini merupakan isyarat tentang hal-hal yang menghalangi pengaruh, yaitu hati yang lalai, mengelana dan tidak mau memikirkan apa yang dikatakan kepadanya, tidak mau menyimak dan memperhatikannya.”

Secara ringkas ayat ini menjelaskan apa saja yang harus dipenuhi seseorang agar dapat mengambil manfaat dari Al Qur’an.
Pertama, ada yang mempengaruhi, yaitu Al Qu’an
Kedua, ada objek yang dipengaruhi, yaitu hati yang hidup
Ketiga, ada syarat yang dilaksanakan, yaitu memperhatikan
Keempat, ada kendala yang disingkirkan, yaitu hati yang lalai
Jika keempat hal ini berhimpun, maka akan terjadi pengaruh, yaitu mengambil manfaat Al Qur’an dan mengingat. Jadi tidak sekedar membaca kemudian hilang, lupa, dan lalai dari isinya.

Semakin jauh manusia dari masa kenabian, semakin jauh pula mereka dari Al Qur’an. Ketika manusia ridho dengan hawa nafsunya, tatkala itu pula hatinya enggan dan menentang Al Qur’an. Apa yang terkandung dalam Al Qur’an terasa mengganjal di hati, karena kebenaran yang ada telah mengusik kezaliman dalam dada manusia. Mereka yang beriman tentu akan menerima Al Qur’an sepenuh keridhoan, berkebalikan dengan pengikut hawa nafsu yang menjadikan Al Qur’an sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan karena berlawanan dengan apa yang diinginkan nafsunya. Atau menerima Al Qur’an akan tetapi dengan penyelewengan maknanya. Dan seperti inilah yang banyak terjadi di kalangan manusia saat ini.

“Dan Rosul (Muhammad) berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan’.” (Al Furqan: 30)

Beberapa jenis ketidak pedulian manusia adalah sebagai berikut:
1. Tidak peduli dalam mendengarkan lantunan Al Qur’an, tidak memperhatikan dan kurang dalam pengimanannya terhadap isi Al Qur’an.
2. Jauh dari pengamalan Al Qur’an, tidak peduli dalam penerapan hukum-hukumnya yang halal dan haram, walaupun membaca Al Qur’an dan mengimani segala yang ada di dalamnya.
3. Enggan menerapkan hukum-hukum dalam Al Qur’an dan menjadikannya sebagai rujukan hukum dalam masalah dasar-dasar agama (ushul) dan cabang-cabangnya (furu’), percaya bahwa Al Qur’an tidak membangkitkan keyakinan, dalil-dalilnya hanya sebatas perkataan dan tidak mendatangkan ilmu.
4. Kurang kepeduliannya untuk menyimak, memahami dan mengetahui maksud Penciptanya.
5. Tidak menjadikan Al Qur’an sebagai obat penawar bagi seluruh penyakit hati, dan mencarinya dari selain Al Qur’an.

Tentu tiap manusia berbeda tingkat ketidakpedulian mereka terhadap Al Qur’an. Sebagian yang lain lebih baik keadaannya dari sebagian yang lain. Dan tentunya kita tidak menghendaki menjadi salah satu di antaranya. Yang kita inginkan adalah menjadi umat yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita untuk meraih keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di posisi mana kita saat ini?

Tulisan Sebelumnya »