Dari Maimun bin Mihran, diriwayatkan bahwa ia berkata, “Ada seorang lelaki yang datang menemui Salman Al Farisi, lalu bertanya kepadanya,
“Berikanlah aku nasihat”.
Beliau berkata, “Jangan banyak bicara.”
“Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara.”
“Kalaupun Anda hendak bicara, berbicaralah yang benar, atau diam.”
“Tolong tambahkan yang lain.”
“Jangan suka marah.”
“Kadang terjadi padaku, apa yang aku tidak bisa menahan diri.”
“Kalau begitu, bila engkau marah, jagalah lidah dan tanganmu.”
“Tambahkan lagi.”
“Jangan campuri urusan orang lain.”
“Orang yang hidup bersama orang banyak, tak mungkin tidak mencampuri urusan orang lain.”
“Kalau engkau harus mencampuri urusan orang lain, katakan perkataan yang benar, dan tunaikan amanah kepada yang berhak.”
Dari Mu’adz bin Said, diriwayatkan bahwa ia berkata, “Kami pernah bersama Atha’ bin Rabbah. Tiba-tiba seorang lelaki berbicara dan pembicaraannya dipotong oleh temannya. Maka Atha’ berkata, “Subhanallah, akhlak macam apa ini? Sesungguhnya aku mendengar orang lain berbicara, sedangkan aku lebih mengerti daripada dirinya, tetapi aku seolah-olah menunjukkan bahwa aku belum mengerti apa yang disampaikannya.”
Adz Dzahabi berkata,
“Terkadang kita melihat seseorang nampak wara’ dalam menjaga makanan, pakaian dan pergaulannya, namun apabila berbicara, ada hal yang seharusnya tidak disertakan dalam ucapannya namun ia sertakan juga.
Adakalanya ia berusaha untuk tetap jujur, namun kejujurannya tidak sempurna.
Terkadang ia betul-betul jujur, namun ia memperbagus ucapannya agar dipuji sebagai orang yang fasih.
Atau terkadang mempertontonkan apa yang terbagus yang bisa dipertontonkan agar diagung-agungkan orang.
Demikian juga terkadang ia sengaja diam di saat ia bisa berbicara juga untuk mendapatkan sanjungan.”